Bayi Kuning Apakah Karena ASI?

Bayi Kuning Apakah Karena ASI?

Hiperbilirubinemia atau jaundice merupakan keadaan dimana bayi memiliki kulit atau bola mata berwarna kuning.

Jaundice lebih familiar dengan nama bayi kuning. Keadaan bayi berwarna kuning ini disebabkan oleh adanya peningkatan kadar dari zat kuning atau bilirubin pada darah.

Pada minggu pertama kelahiran sebanyak 60% bayi lahir sesuai umur dan 89% bayi lahir premature mengalami keadaan kuning.

Sama halnya dengan 10% bayi yang mendapatkan ASI selama sebulan pertama juga tidak luput dari keadaan ini.

Sebagai orang tua, Anda tidak perlu cemas dengan keadaan bayi kuning, karena tidak berbahaya. Namun apabila zat kuning sudah terlalu tinggi waspadalah karena ini dapat menjadi pertanda adanya penyakit berbahaya.

Penyebab utama terjadinya bayi kuning adalah peningkatan kadar bilirubin yang beredar dalam darah. Peningkatan yang terlalu tinggi dari keadaan normal dapat memicu terjadinya bayi kuning.

Bilirubin adalah hasil pemecahan dari sel darah merah, yang harus dibuang lewat hati melewati saluran empedu ke usus dan keluar bersamaan feses. Kuning pada bayi terjadi akibat fungsi enzim hati belum dapat bekerja secara sempurna atau karena faktor menyusui.

Menyusui dan bayi kuning

Menyusui dapat meningkatkan resiko bayi kuning karena pengaruh dari ASI. Keadaan ini terjadi 1 dari 10 bayi menyusu.

Namun, Anda tidak perlu cemas dan harus membuang jauh-jauh rasa takut karena keadaan ini. Bayi kuning merupakan fenomena yang normal terjadi pada perkembangan bayi, yaitu pada minggu pertama hingga kedua setelah kelahirannya di dunia.

Akan tetapi ketika bayi kuning bertahan hingga lebih dari dua minggu maka Anda harus segera melakukan pengecekkan kesehatan terhadap si kecil. Hal ini dapat mengindikasikan terjadi penyakit lain.

Kuning yang terjadi pada bayi baru yang mendapat ASI diduga karena produksi ASI pada awal kehidupan bayi belum mencukupi.

Akibatnya terjadi sedikit kekurangan cairan. Namun hal ini bersifat sementara karena seiring waktu produksi ASI akan meningkat dan bayi akan mendapat cukup ASI..

Ada lagi istilah yang disebut kuning akibat air susu ibu (ASI) yang bukan disebabkan oleh kurangnya produksi ASI melainkan karena adanya zat tertentu dalam ASI.

Biasanya pada kasus ini, kuning mencapai puncak pada minggu kedua hingga ketiga kehidupan dan terjadi pada 1 dari 200 bayi. Zat dalam ASI diduga mengurangi kemampuan hati bayi untuk memetabolisme bilirubin Sehingga dengan terganggunya sistem metabolism terjadi efek kulit dan bola mata yang menguning.

Supaya kondisi bayi membaik, keadaan bayi kuning biasanya diatasi dengan diterapi sinar (fototerapi) atau pengobatan khusus.

Baca juga: Pengalaman Saat Si Kecil Harus Diterapi Sinar (Fototerapi) di RS AL-Islam Bandung

Untuk menghindari hal ini, American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan:

ibu menyusui bayinya paling tidak 8-12 kali perhari pada minggu-minggu pertama kehidupan dan tidak merekomendasikan pemberian cairan lain (baik air putih atau air gula) pada bayi yang tidak ada gejala dehidrasi. Intinya, ASI saja cukup untuk si kecil.